| Fatwa MUI Tentang Kedudukan Anak
Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya
Berita
Terkait
Kamis, 17 Muharram 1436 H / 22 Maret 2012
02:15 wib
33.422 views
Fatwa MUI
Tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya
JAKARTA (voa-islam.com) - Keresahan umat sebagai dampak putusan MK RI No.
46/PUU-VIII/2010 tentang anak-anak di luar perkawinan direspon MUI dengan
mengeluarkan fatwa mengenai “Kedudukan Anak Hasil Zina Dan Perlakukan
Terhadapnya.”
Fatwa
tersebut menepis berbagai syubuhat (kerancuan) di tengah umat
Islam dan menyatakan dengan tegas kedudukan anak hasil zina dalam Islam,
sehingga tak perlu ragu lagi berpegang terhadap aturan syari'at Islam yang
telah ditetapkan oleh Allah dan bukan aturan yang lain yang dibuat manusia.
Agar
dapat dibaca dan diakses oleh umat Islam seluas-luasnya maka redaksi
voa-islam.com memuat fatwa tersebut. Berikut ini kutipan lengkap fatwa MUI
berkaitan dengan anak hasil zina yang dikeluarkan Sabtu (10/3/2012).
FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor: 11 Tahun 2012
Tentang
KEDUDUKAN ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA
ÉOó¡Î0
«!$#
Ç`»uH÷q§9$#
ÉOÏm§9$#
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), setelah :
MENIMBANG:
a.
bahwa
dalam Islam, anak terlahir dalam kondisi suci dan tidak membawa dosa turunan,
sekalipun ia terlahir sebagai hasil zina;
b.
bahwa
dalam realitas di masyarakat, anak hasil zina seringkali terlantar karena
laki-laki yang menyebabkan kelahirannya tidak bertanggung jawab untuk memenuhi
kebutuhan dasarnya, serta seringkali anak dianggap sebagai anak haram dan terdiskriminasi
karena dalam akte kelahiran hanya dinisbatkan kepada ibu;
c.
bahwa
terhadap masalah tersebut, Mahkamah Konsitusi dengan pertimbangan memberikan
perlindungan kepada anak dan memberikan hukuman atas laki-laki yang menyebabkan
kelahirannya untuk bertanggung jawab, menetapkan putusan MK Nomor
46/PUU-VIII/2010 yang pada intinya mengatur kedudukan anak yang
dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan
keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan
berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut
hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga
ayahnya;
d.
bahwa
terhadap putusan tersebut, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai kedudukan
anak hasil zina, terutama terkait dengan hubungan nasab, waris, dan wali nikah
dari anak hasil zina dengan laki-laki yang menyebabkan kelahirannya menurut
hukum Islam;
e.
bahwa
oleh karena itu dipandang perlu menetapkan fatwa tentang kedudukan anak hasil
zina dan perlakuan terhadapnya guna dijadikan pedoman.
MENGINGAT:
1.
Firman
Allah SWT:
a.
Firman
Allah yang mengatur nasab, antara lain :
uqèdur
Ï%©!$#
t,n=y{
z`ÏB
Ïä!$yJø9$#
#Z|³o0
¼ã&s#yèyfsù
$Y7|¡nS
#\ôgϹur
3
tb%x.ur
y7/u
#\Ïs%
ÇÎÍÈ
“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu
dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah
Tuhanmu Maha Kuasa. (QS. Al-Furqan : 54).
b.
Firman
Allah yang melarang perbuatan zina dan seluruh hal yang mendekatkan ke zina,
antara lain:
wur
(#qç/tø)s?
#oTÌh9$#
(
¼çm¯RÎ)
tb%x.
Zpt±Ås»sù
uä!$yur
WxÎ6y
ÇÌËÈ
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina
itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk “ (QS. Al-Isra
: 32).
tûïÏ%©!$#ur
w
cqããôt
yìtB
«!$#
$·g»s9Î)
tyz#uä
wur
tbqè=çFø)t
}§øÿ¨Z9$#
ÓÉL©9$#
tP§ym
ª!$#
wÎ)
Èd,ysø9$$Î/
wur
cqçR÷t
4
`tBur
ö@yèøÿt
y7Ï9ºs
t,ù=t
$YB$rOr&
ÇÏÑÈ ô#yè»Òã
ã&s!
Ü>#xyèø9$#
tPöqt
ÏpyJ»uÉ)ø9$#
ô$é#øsur
¾ÏmÏù
$ºR$ygãB
ÇÏÒÈ
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain
beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)
kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang
melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya, yakni
akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam
azab itu, dalam keadaan terhina” (QS. Al-Furqan: 68 – 69)
c.
Firman
Allah yang menjelaskan tentang pentingnya kejelasan nasab dan asal usul
kekerabatan, antara lain:
$¨B
@yèy_
ª!$#
9@ã_tÏ9
`ÏiB
Éú÷üt7ù=s%
Îû
¾ÏmÏùöqy_
4
$tBur
@yèy_
ãNä3y_ºurør&
Ï«¯»©9$#
tbrãÎg»sàè?
£`åk÷]ÏB
ö/ä3ÏG»yg¨Bé&
4
$tBur
@yèy_
öNä.uä!$uÏã÷r&
öNä.uä!$oYö/r&
4
öNä3Ï9ºs
Nä3ä9öqs%
öNä3Ïdºuqøùr'Î/
(
ª!$#ur
ãAqà)t
¨,ysø9$#
uqèdur
Ïôgt
@Î6¡¡9$#
ÇÍÈ öNèdqãã÷$#
öNÎgͬ!$t/Ky
uqèd
äÝ|¡ø%r&
yZÏã
«!$#
4
bÎ*sù
öN©9
(#þqßJn=÷ès?
öNèduä!$t/#uä
öNà6çRºuq÷zÎ*sù
Îû
ÈûïÏe$!$#
öNä3Ï9ºuqtBur
4
}§øs9ur
öNà6øn=tæ
Óy$uZã_
!$yJÏù
Oè?ù'sÜ÷zr&
¾ÏmÎ/
`Å3»s9ur
$¨B
ôNy£Jyès?
öNä3ç/qè=è%
4
tb%2ur
ª!$#
#Yqàÿxî
$¸JÏm§ ÇÎÈ
“Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai
anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu
saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang
benar).
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan
(memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan
jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai)
saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. (QS. Al-Ahzab: 4 – 5).
ôMtBÌhãm
öNà6øn=tã
öNä3çG»yg¨Bé&
öNä3è?$oYt/ur
öNà6è?ºuqyzr&ur
öNä3çG»£Jtãur
öNä3çG»n=»yzur
ßN$oYt/ur
ËF{$#
ßN$oYt/ur
ÏM÷zW{$#
ãNà6çF»yg¨Bé&ur
ûÓÉL»©9$#
öNä3oY÷è|Êör&
Nà6è?ºuqyzr&ur
ÆÏiB
Ïpyè»|ʧ9$#
àM»yg¨Bé&ur
öNä3ͬ!$|¡ÎS
ãNà6ç6Í´¯»t/uur
ÓÉL»©9$#
Îû
Nà2Íqàfãm
`ÏiB
ãNä3ͬ!$|¡ÎpS
ÓÉL»©9$#
OçFù=yzy
£`ÎgÎ/
bÎ*sù
öN©9
(#qçRqä3s?
OçFù=yzy
ÆÎgÎ/
xsù
yy$oYã_
öNà6øn=tæ
ã@Í´¯»n=ymur
ãNà6ͬ!$oYö/r&
tûïÉ©9$#
ô`ÏB
öNà6Î7»n=ô¹r&
br&ur
(#qãèyJôfs?
ú÷üt/
Èû÷ütG÷zW{$#
wÎ)
$tB
ôs%
y#n=y
3
cÎ)
©!$#
tb%x.
#Yqàÿxî
$VJÏm§
ÇËÌÈ
“.... (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak
kandungmu (menantu) “ (QS. Al-Nisa: 23).
d. Firman Allah yang menegaskan bahwa
seseorang itu tidak memikul dosa orang lain, demikian juga anak hasil zina
tidak memikul dosa pezina, sebagaimana firman-Nya:
ö@è%
uöxîr&
«!$#
ÓÈöö/r&
$|/u
uqèdur
>u
Èe@ä.
&äóÓx«
4
wur
Ü=Å¡õ3s?
@à2
C§øÿtR
wÎ)
$pkön=tæ
4
wur
âÌs?
×ouÎ#ur
uøÍr
3t÷zé&
4
§NèO
4n<Î)
/ä3În/u
ö/ä3ãèÅ_ó£D
/ä3ã¥Îm7t^ãsù
$yJÎ/
öNçFZä.
ÏmÏù
tbqàÿÎ=tGørB
ÇÊÏÍÈ
Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan
kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang lain526. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan
akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan. (QS. Al-An’am : 164)
bÎ)
(#rãàÿõ3s?
cÎ*sù
©!$#
;ÓÍ_xî
öNä3Ztã
(
wur
4ÓyÌöt
ÍnÏ$t7ÏèÏ9
tøÿä3ø9$#
(
bÎ)ur
(#rãä3ô±n@
çm|Êöt
öNä3s9
3
wur
âÌs?
×ouÎ#ur
uøÍr
3t÷zé&
3
§NèO
4n<Î)
/ä3În/u
öNà6ãèÅ_ö¨B
Nä3ã¥Îm7t^ãsù
$yJÎ/
÷LäêZä.
tbqè=yJ÷ès?
4
¼çm¯RÎ)
7OÎ=tæ
ÏN#xÎ/
ÍrßÁ9$#
ÇÐÈ
“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa
orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu
apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang
tersimpan dalam (dada)mu. (QS. Al-Zumar: 7)
2.
Hadis
Rasulullah SAW, antara lain:
a.
hadis
yang menerangkan bahwa anak itu dinasabkan kepada pemilik kasur/suami dari
perempuan yang melahirkan (firasy), sementara pezina harus diberi hukuman,
antara lain:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِي غُلَامٍ فَقَالَ سَعْدٌ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ أَخِي عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ انْظُرْ إِلَى شَبَهِهِ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هَذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنْ وَلِيدَتِهِ فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ وَاحْتَجِبِي مِنْهُ يَا سَوْدَةُ بِنْتَ زَمْعَةَ قَالَتْ فَلَمْ يَرَ سَوْدَةَ قَطُّ. رواه البخارى ومسلم
Dari ‘Aisyah ra bahwasanya ia berkata: Sa’d ibn Abi
Waqqash dan Abd ibn Zam’ah berebut terhadap seorang anak lantas Sa’d berkata:
Wahai Rasulallah, anak ini adalah anak saudara saya ‘Utbah ibn Abi Waqqash dia
sampaikan ke saya bahwasanya ia adalah anaknya, lihatlah kemiripannya. ‘Abd ibn
Zum’ah juga berkata: “Anak ini saudaraku wahai Rasulullah, ia terlahir dari pemilik
kasur (firasy) ayahku dari ibunya. Lantas Rasulullah saw melihat rupa anak
tersebut dan beliau melihat keserupaan yang jelas dengan ‘Utbah, lalu Rasul
bersabda: “Anak ini saudaramu wahai ‘Abd ibn Zum’ah. Anak itu adalah bagi
pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi pezina
adalah (dihukum) batu, dan berhijablah darinya wahai Saudah Binti Zam’ah.
Aisyah berkata: ia tidak pernah melihat Saudah sama sekali. (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)
عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: قام رجل فقال: يا رسول الله، إن فلانًا ابني، عَاهَرْتُ بأمه في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا دعوة في الإسلام، ذهب أمر الجاهلية، الولد للفراش، وللعاهر الحجر. رواه أبو داود
“Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya
ia berkata: seseorang berkata: Ya rasulallah, sesungguhnya si fulan itu anak
saya, saya menzinai ibunya ketika masih masa jahiliyyah, rasulullah saw pun
bersabda: “tidak ada pengakuan anak dalam Islam, telah lewat urusan di masa
jahiliyyah. Anak itu adalah bagi pemilik kasur/suami dari perempuan yang
melahirkan (firasy) dan bagi pezina adalah batu (dihukum)” (HR. Abu
Dawud)
b.
hadis
yang menerangkan bahwa anak hazil zina dinasabkan kepada ibunya, antara lain:
قال النبي صلى الله عليه وسلم في ولد الزنا " لأهل أمه من كانوا" . رواه أبو داود
Nabi saw bersabda tentang anak hasil zina: “Bagi
keluarga ibunya ...” (HR. Abu Dawud)
c.
hadis
yang menerangkan tidak adanya hubungan kewarisan antara anak hasil zina dengan lelaki
yang mengakibatkan kelahirannya, antara lain:
عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: " أيما رجل عاهر بحرة أو أمة فالولد ولد زنا ، لا يرث ولا يورث " رواه الترمذى - سنن الترمذى 1717
“Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya
bahwa rasulullah saw bersabda: Setiap orang yang menzinai perempuan baik
merdeka maupun budak, maka anaknya adalah anak hasil zina, tidak mewarisi dan
tidak mewariskan“. (HR. Al-Turmudzi)
d.
hadis
yang menerangkan larangan berzina, antara lain:
عن أبي مرزوق رَضِيَ اللَّهُ عَنْه قال غزونا مع رويفع بن ثابت الأنصاري قرية من قرى المغرب يقال لها جربة فقام فينا خطيبا فقال أيها الناس إني لا أقول فيكم إلا ما سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول قام فينا يوم حنين فقال لا يحل لامرئ يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسقي ماءه زرع غيره . أخرجه الإمام أحمد و أبو داود
Dari Abi Marzuq ra ia berkata: Kami bersama
Ruwaifi’ ibn Tsabit berperang di Jarbah, sebuah desa di daerah Maghrib, lantas
ia berpidato: “Wahai manusia, saya sampaikan apa yang saya dengar dari
rasulullah saw pada saat perang Hunain seraya berliau bersabda: “Tidak halal
bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya menyirampan air
(mani)nya ke tanaman orang lain (berzina)’ (HR Ahmad dan Abu Dawud)
e.
hadis
yang menerangkan bahwa anak terlahir di dunia itu dalam keadaan fitrah, tanpa
dosa, antara lain:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه . رواه البخارى ومسلم
Dari Abi Hurairah ra ia berkata: Nabi saw bersabda:
“Setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah, kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya seorang yahudi, nasrani, atau majusi. (HR al-Bukhari dan
Muslim)
3.
Ijma’
Ulama, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibn Abdil Barr dalam “al-Tamhid”
(8/183) apabila ada seseorang berzina dengan perempuan yang memiliki suami,
kemudian melahirkan anak, maka anak tidak dinasabkan kepada lelaki yang
menzinainya, melainkan kepada suami dari ibunya tersebut, dengan ketentuan ia
tidak menafikan anak tersebut.
وأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها صلى الله عليه وسلم، وجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان
Umat telah ijma’ (bersepakat) tentang hal itu dengan
dasar hadis nabi saw, dan rasul saw menetapkan setiap anak yang terlahir dari
ibu, dan ada suaminya, dinasabkan kepada ayahnya (suami ibunya), kecuali ia
menafikan anak tersebut dengan li’an, maka hukumnya hukum li’an.
Juga
disampaikan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Kitab al-Mughni (9/123) sebagai
berikut:
وأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه
Para Ulama bersepakat (ijma’) atas anak yang lahir
dari ibu, dan ada suaminya, kemudian orang lain mengaku (menjadi ayahnya), maka
tidak dinasabkan kepadanya.
4.
Atsar
Shahabat, Khalifah ‘Umar ibn al-Khattab ra berwasiat untuk senantiasa
memperlakukan anak hasil zina dengan baik, sebagaimana ditulis oleh Imam
al-Shan’ani dalam “al-Mushannaf” Bab ‘Itq walad al-zina” hadits nomor 13871.
5.
Qaidah
Sadd al-Dzari’ah, dengan menutup peluang sekecil apapun terjadinya zina serta
akibat hukumnya.
6.
Qaidah
ushuliyyah :
الأ صل في النهي يقتضي فساد المنهي عنه
“Pada dasarnya, di dalam larangan tentang sesuatu menuntut
adanya rusaknya perbuatan yang terlarang tersebut”
لا اجتهاد في مورد النص
“Tidak ada ijtihad di hadapan nash”
7.
Qaidah
fiqhiyyah :
لِلْوَسَائِلَ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ
“Hukum sarana adalah mengikuti hukum capaian yang akan
dituju"
الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ
“Segala mudharat (bahaya) harus dihindarkan sedapat
mungkin”.
الضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَرِ
“Bahaya itu tidak boleh dihilangkan dengan
mendatangkan bahaya yang lain.”
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Menghindarkan mafsadat didahulukan atas mendatangkan
maslahat.
يُتَحَمَّلُ الضَّرَرُ الْخَاصُّ لِدَفْعِ الضَّرَرِ الْعَامِّ
“Dharar yang bersifat khusus harus ditanggung untuk
menghindarkan dharar yang bersifat umum (lebih luas).”
إِذَا تَعَارَضَتْ مَفْسَدَتَانِ أَوْ ضَرَرَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا
"Apabila terdapat dua kerusakan atau bahaya yang
saling bertentangan, maka kerusakan atau bahaya yang lebih besar dihindari
dengan jalan melakukan perbuatan yang resiko bahayanya lebih kecil."
تَصَرُّفُ اْلإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصَلَحَةِ
“Kebijakan imam (pemerintah) terhadap rakyatnya
didasarkan pada kemaslahatan.”
MEMPERHATIKAN:
1.
Pendapat
Jumhur Madzhab Fikih Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah yang
menyatakan bahwa prinsip penetapan nasab adalah karena adanya hubungan
pernikahan yang sah. Selain karena pernikahan yang sah, maka tidak ada akibat
hukum hubungan nasab, dan dengan demikian anak zina dinasabkan kepada ibunya,
tidak dinasabkan pada lelaki yang menzinai, sebagaimana termaktub dalam
beberapa kutipan berikut:
a.
Ibn
Hajar al-‘Asqalani:
نقل عن الشافعي أنه قال: لقوله “الولد للفراش” معنيان: أحدهما
هو له مالم ينفه، فإذا نفاه بما شُرع له كاللعان انتفى عنه، والثاني: إذا تنازع رب الفراش والعاهر فالولد لرب الفراش” ثم قال: “وقوله: “وللعاهر الحجر”، أي: للزاني الخيبة والحرمان، والعَهَر بفتحتين: الزنا، وقيل: يختص بالليل، ومعنى الخيبة هنا: حرمان الولد الذي يدعيه، وجرت عادة العرب أن تقول لمن خاب: له الحجر وبفيه الحجر والتراب، ونحو ذلك، وقيل: المراد بالحجر هنا أنه يرجم. قال النووي: وهو ضعيف، لأن الرجم مختصّ بالمحصن، ولأنه لا يلزم من رجمه نفي الولد، والخبر إنما سيق لنفي الولد، وقال السبكي: والأول أشبه بمساق الحديث، لتعم الخيبة كل زان”
هو له مالم ينفه، فإذا نفاه بما شُرع له كاللعان انتفى عنه، والثاني: إذا تنازع رب الفراش والعاهر فالولد لرب الفراش” ثم قال: “وقوله: “وللعاهر الحجر”، أي: للزاني الخيبة والحرمان، والعَهَر بفتحتين: الزنا، وقيل: يختص بالليل، ومعنى الخيبة هنا: حرمان الولد الذي يدعيه، وجرت عادة العرب أن تقول لمن خاب: له الحجر وبفيه الحجر والتراب، ونحو ذلك، وقيل: المراد بالحجر هنا أنه يرجم. قال النووي: وهو ضعيف، لأن الرجم مختصّ بالمحصن، ولأنه لا يلزم من رجمه نفي الولد، والخبر إنما سيق لنفي الولد، وقال السبكي: والأول أشبه بمساق الحديث، لتعم الخيبة كل زان”
Diriwayatkan dari Imam Syafe’i dua pengertian tentang
makna dari hadist “ Anak itu menjadi hak pemillik kasur/suami “ .
Pertama: Anak menjadi hak pemilik kasur/suami selama
ia tidak menafikan/mengingkarinya. Apabila pemilik kasur/suami menafikan
anak tersebut (tidak mengakuinya) dengan prosedur yang diakui keabsahannya
dalam syariah, seperti melakukan Li’an, maka anak tersebut dinyatakan
bukan sebagai anaknya.
Kedua : Apabila bersengketa (terkait kepemilikan anak)
antara pemilik kasur/suami dengan laki-laki yang menzinai istri/budak
wanitanya, maka anak tersebut menjadi hak pemilik kasur/suami.
Adapun maksud dari “ Bagi Pezina adalah Batu “ bahwa
laki-laki pezina itu keterhalangan dan keputus-asaan. Maksud dari kata Al-‘AHAR
dengan menggunakan dua fathah (pada huruf ‘ain dan ha’) adalah zina. Ada yang
berpendapat bahwa kata tersebut digunakan untuk perzinaan yang dilakukan pada
malam hari.
Oleh karenanya, makna dari keptus-asaan disini adalah
bahwa laki-laki pezina tersebut tidak mendapatkan hak nasab atas anak yang
dilahirkan dari perzinaannya. Pemilihan kata keputus-asaan di sini sesuai
dengan tradisi bangsa arab yang menyatakan “Baginya ada batu” atau : Di
mulutnya ada batu” buat orang yang telah berputus asa dari harapan.
Ada yang berpendapat bahwa pengertian dari batu di
sini adalah hukuman rajam. Imam Nawawi menyatakan bahwa pendapat tersebut
adalah lemah, karena hukuman rajam hanya diperuntukkan buat pezina yang mukhsan
(sudah menikah). Di sisi yang lain, hadist ini tidak dimaksudkan untuk
menjelaskan hokum rajam, tapi dimaksudkan untuk sekedar menafikan hak anak atas
pezina tersebut. Oleh karena itu Imam Subki menyatakan bahwa pendapat yang
pertama itu lebih sesuai dengan redaksi hadist tersebut, karena dapat
menyatakan secara umum bahwa keputus-asaan (dari mendapatkan hak anak) mencakup
seluruh kelompok pezina (mukhsan atau bukan mukhsan).
b.
Pendapat
Imam al-Sayyid al-Bakry dalam kitab “I’anatu al-Thalibin” juz 2 halaman 128
sebagai berikut:
ولد الزنا لا ينسب لأب وإنما ينسب لأمه
Anak zina itu tidak dinasabkan kepada ayah, ia hanya
dinasabkan kepada ibunya.
c.
Pendapat
Imam Ibn Hazm dalam Kitab al-Muhalla juz 10 halaman 323 sebagai berikut :
والولد يلحق بالمرأة إذا زنت و حملت به ولا يلحق بالرجل
Anak itu dinasabkan kepada ibunya jika ibunya berzina
dan kemudian mengandungnya, dan tidak dinasabkan kepada lelaki.
2.
Pendapat
Imam Ibnu Nujaim dalam kitab “al-Bahr al-Raiq Syarh Kanz ad-Daqaiq”:
وَيَرِثُ وَلَدُ الزِّنَا وَاللِّعَانِ مِنْ جِهَةِ الأمِّ فَقَطْ ؛ لأنَّ نَسَبَهُ مِنْ جِهَةِ الأبِ مُنْقَطِعٌ فَلا يَرِثُ بِهِ وَمِنْ جِهَةِ الأمِّ ثَابِتٌ فَيَرِثُ بِهِ أُمَّهُ وَأُخْتَه مِنْ الأمِّ بِالْفَرْضِ لا غَيْرُ وَكَذَا تَرِثُهُ أُمُّهُ وَأُخْتُهُ مِنْ أُمِّهِ فَرْضًا لا غَيْرُ
Anak hasil zina atau li’an hanya mendapatkan hak waris
dari pihak ibu saja, karena nasabnya dari pihak bapak telah terputus, maka ia tidak
mendapatkan hak waris dari pihak bapak, sementara kejelasan nasabnya hanya
melalui pihak ibu, maka ia memiliki hak waris dari pihak ibu, saudara perempuan
seibu dengan fardh saja (bagian tertentu), demikian pula dengan ibu dan saudara
perempuannya yang seibu, ia mendapatkan bagian fardh (tertentu), tidak dengan
jalan lain.
3.
Pendapat
Imam Ibn ‘Abidin dalam Kitab “Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar” (Hasyiyah
Ibn ‘Abidin) sebagai berikut :
ويرث ولد الزنا واللعان بجهة الأم فقط لما قد مناه فى العصبات أنه لا أب لهما
Anak hasil zina atau li’an hanya mendapatkan hak waris
dari pihak ibu saja, sebagaimana telah kami jelaskan di bab yang menjelaskan
tentang Ashabah, karena anak hasil zina tidaklah memiliki bapak.
4.
Pendapat
Ibnu Taymiyah dalam kitab “al-Fatawa al-Kubra” :
وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي اسْتِلْحَاقِ وَلَدِ الزِّنَا إذَا لَمْ يَكُنْ فِرَاشًا ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ .كَمَا ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ { صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَلْحَقَ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ بْنِ الْأَسْوَدِ بْنِ زَمْعَةَ بْنِ الْأَسْوَدِ ، وَكَانَ قَدْ أَحْبَلَهَا عُتْبَةُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ ، فَاخْتَصَمَ فِيهِ سَعْدٌ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ ، فَقَالَ سَعْدٌ : ابْنُ أَخِي .عَهِدَ إلَيَّ أَنَّ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ هَذَا ابْنِي . فَقَالَ عَبْدٌ : أَخِي وَابْنُ وَلِيدَةِ أَبِي ؛ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ لَك يَا عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ ؛ احْتَجِبِي مِنْهُ يَا سَوْدَةُ } لَمَّا رَأَى مِنْ شَبَهِهِ الْبَيِّنِ بِعُتْبَةَ ، فَجَعَلَهُ أَخَاهَا فِي الْمِيرَاثِ دُونَ الْحُرْمَةِ
Para ulama berbeda pendapat terkait istilkhaq
(penisbatan) anak hasil zina apabila si wanita tidak memiki pemilik kasur/suami
atau sayyid (bagi budak wanita). Diriwatkan dalam hadist bahwa Rasulullah
SAW menisbatkan anak budak wanita Zam’ah ibn Aswad kepadanya (Zam’ah), padahal
yang menghamili budak wanita tersebut adalah Uthbah ibn Abi Waqqosh. Sementara
itu, Sa’ad menyatakan : anak dari budak wanita tersebut adalah anak
saudaraku (Uthbah), dan aku (kata sa’ad) ditugaskan untuk merawatnya seperti
anakku sendiri”. Abd ibn Zam’ah membantah dengan berkata : “anak itu
adalah saudaraku dan anak dari budak wanita ayahku, ia dilahirkan di atas
ranjang ayahku”. Rasulullah SAW bersabda: “anak itu menjadi milikmu
wahai Abd ibn Zam’ah, anak itu menjadi hak pemilik kasur dan bagi pezina adalah
batu”, kemudian Rasulullah bersabda : “Berhijablah engkau wahai Saudah (Saudah
binti Zam’ah – Istri Rasulullah SAW)”, karena beliau melihat kemiripan anak tersebut
dengan Utbah, maka beliau menjadikan anak tersebut saudara Saudah binti Zam’ah
dalam hal hak waris, dan tidak menjadikannya sebagai mahram.
5.
Pendapat
Dr. Wahbah al-Zuhaili dengan judul “Ahkam al-Aulad al-Natijin ‘an al-Zina” yang
disampaikan pada Daurah ke-20 Majma’ Fiqh Islami di Makkah pada 25 – 29
Desember 2010 yang pada intinya menerangkan bahwa, jika ada seseorang laki-laki
berzina dengan perempuan yang memiliki suami dan kemudian melahirkan anak,
terdapat ijma ulama, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibn Abdil Barr dalam
“al-Tamhid” (8/183) yang menegaskan bahwa anak tersebut tidak dinasabkan kepada
lelaki yang menzinainya, melainkan kepada suami dari ibunya tersebut, dengan
ketentuan ia tidak menafikan anak tersebut melalui li’an.
Sementara, jika ia berzina dengan perempuan yang tidak sedang terikat
pernikahan dan melahirkan seorang anak, maka menurut jumhur ulama madzhab
delapan, anak tersebut hanya dinasabkan ke ibunya sekalipun ada pengakuan dari
laki-laki yang menzinainya. Hal ini karena penasaban anak kepada lelaki yang
pezina akan mendorong terbukanya pintu zina, padahal kita diperintahkan untuk
menutup pintu yang mengantarkan pada keharaman (sadd al-dzari’ah) dalam rangka
menjaga kesucian nasab dari perlikau munkarat.
6.
Pendapat,
saran, dan masukan yang berkembang dalam Sidang Komisi Fatwa pada Rapat-Rapat
Komisi Fatwa pada tanggal 3, 8, dan 10 Maret 2011.
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN: FATWA
TENTANG ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA
Pertama:
Ketentuan Umum
Di
dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:
1.
Anak
hasil zina adalah anak yang lahir sebagai akibat dari hubungan badan di luar
pernikahan yang sah menurut ketentuan agama, dan merupakan jarimah (tindak
pidana kejahatan).
2.
Hadd adalah jenis hukuman atas tindak pidana yang bentuk
dan kadarnya telah ditetapkan oleh nash
3.
Ta’zir adalah jenis hukuman atas tindak pidana yang
bentuk dan kadarnya diserahkan kepada ulil amri (pihak yang
berwenang menetapkan hukuman).
4.
Wasiat
wajibah adalah kebijakan ulil amri (penguasa) yang
mengharuskan laki-laki yang mengakibatkan lahirnya anak zina untuk berwasiat
memberikan harta kepada anak hasil zina sepeninggalnya.
Kedua:
Ketentuan Hukum
1.
Anak
hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab, wali nikah, waris, dan nafaqah
dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya.
2.
Anak
hasil zina hanya mempunyai hubungan nasab, waris, dan nafaqah dengan
ibunya dan keluarga ibunya.
3.
Anak
hasil zina tidak menanggung dosa perzinaan yang dilakukan oleh orang yang
mengakibatkan kelahirannya
4.
Pezina
dikenakan hukuman hadd oleh pihak yang berwenang, untuk
kepentingan menjaga keturunan yang sah (hifzh al-nasl).
5.
Pemerintah
berwenang menjatuhkan hukuman ta’zir lelaki pezina yang
mengakibatkan lahirnya anak dengan mewajibkannya untuk:
a.
mencukupi
kebutuhan hidup anak tersebut;
b.
memberikan
harta setelah ia meninggal melalui wasiat wajibah.
6.
Hukuman
sebagaimana dimaksud nomor 5 bertujuan melindungi anak, bukan untuk mensahkan
hubungan nasab antara anak tersebut dengan lelaki yang mengakibatkan
kelahirannya.
Ketiga: Rekomendasi:
1.
DPR-RI
dan Pemerintah diminta untuk segera menyusun peraturan perundang-undangan yang
mengatur:
a.
hukuman
berat terhadap pelaku perzinaan yang dapat berfungsi sebagai zawajir dan mawani’ (membuat
pelaku menjadi jera dan orang yang belum melakukan menjadi takut untuk
melakukannya);
b.
memasukkan
zina sebagai delik umum, bukan delik aduan karena zina merupakan kejahatan yang
menodai martabat luhur manusia.
2.
Pemerintah
wajib mencegah terjadinya perzinaan disertai dengan penegakan hukum yang keras
dan tegas.
3.
Pemerintah
wajib melindungi anak hasil zina dan mencegah terjadinya penelantaran, terutama
dengan memberikan hukuman kepada laki-laki yang menyebabkan kelahirannya untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.
4.
Pemerintah
diminta untuk memberikan kemudahan layanan akte kelahiran kepada anak hasil
zina, tetapi tidak menasabkannya kepada lelaki yang menngakibatkan
kelahirannya.
5.
Pemerintah
wajib mengedukasi masyarakat untuk tidak mendiskriminasi anak hasil zina dengan
memperlakukannya sebagaimana anak yang lain. Penetapan nasab anak hasil zina
kepada ibu dimaksudkan untuk melindungi nasab anak dan ketentuan keagamaan lain
yang terkait, bukan sebagai bentuk diskriminasi.
Keempat: Ketentuan Penutup
1.
Fatwa
ini berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di ke mudian
hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan
sebagaimana mestinya.
2.
Agar
setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau
semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.
Ditetapkan
di: Jakarta
Pada
tanggal:
18 Rabi’ul Akhir1433 H
10
M a r e t 2012 M
MAJELIS
ULAMA INDONESIA
KOMISI
FATWA
Ketua
PROF.
DR. H. HASANUDDIN AF, MA
Sekretaris
DR.
HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA
Make money and play more like cash.
BalasHapusWhy play money, and to find the best game online in a casino? It's because it's easier to win than to หารายได้เสริม lose. No need to be an expert to