Jumat, 16 Januari 2015

PESANTREN TERPADU DARUL AITAMI. BY-IMAMSYAFIQI

Nama           : Imanuddin/11110045
Jurusan                  : SAS (syari’ah).
Unit             : 01


ISLAMIC BOARDING SCHOOL OF DARUL AITAMI
Pendekatan Normatif: Untuk Memahami Isi Kitab dan Dua Bahasa
Oleh: Imanuddin

Pendahuluan
Sejarah berdirinya Darul Aitami (DA)
Pesantren terpadu yang hanya satu-satunya saat ini di daerah Aceh Selatan yang berdiri pada tahun 2005 yang umurnya ± 8 tahun, memiliki sistem pembelajaran yang sama seperti dayah-dayah terpadu lainnya yang ada di Aceh. Pesantren ini dibiayai oleh Pemda Aceh selatan. Jadi statusnya masih swasta. Sebanarnya, pesantren yang bernama “darul aitami” sebelumnya sudah ada yang berdiri di wilayah Aceh Selatan, akan tetapi karena sistim yang dipakai dalam proses belajar-mengajar tersebut mempunyai banyak kesalahan, sehingga eksistensi-nya sudah punah.[1]
Awalnya dayah ini bermula dari isu-isu “leluri” warga dan pemerintah setempat yang ingin membuat gagasan baru bahwa diperlukannya sebuah dayah yang bercorak terpadu, dengan mengajarkan ilmu dunia dan ilmu akhirat. Nama Darul Aitami bukan hanya bermakna  tempat untuk orang-orang yatim-piatu saja, akan tetapi juga sebagai tempat orang-orang yang miskin ilmu. Ini terbukti bahwa tidak sedikit santri yang memiliki kedua orang tua juga belajar di pasantren tersebut. Bahkan banyak anak yang ber-ada  juga belajar di Darul Aitami. Akan tetapi yang diutamakan adalah anak yatim-piatu. Untuk santri yang mondok disini hingga yang sudah lulus, biasanya dayah ini sudah lumrah disebut dengan singkatan “DA” (Darul Aitami). Di dayah ini, santriwan dan santriwati tidak dipisahkan ataupun tidak dibuat satir, tabir (seukat pembatas) dalam proses belajar, bukan seperti dayah-dayah salafiyah yang antara kaum hawa dan kaum adam-nya dipisah, bahkan mereka tidak saling mengenal. Akan tetapi dayah ini sama seperti Darul ‘Ulum, SMA dan sekolah sederajat yang bersifat umum lainnya.
Mulanya, pesantren ini hanya memiliki satu lokal untuk santri tingkat Madrasah Tsanawiyah saja. Pada tahun kedua, untuk tingkat Aliyah baru terisi satu lokal, jadi pada tahun ini sudah terdapat tiga lokal, satu lokal untuk madrasah ‘aliyah dan dua lokal untuk madrasah tsanawiyah. Years by years, dengan adanya peningkatan dan mutu semagat belajar santri yang tinggi, bisa menjadikan sebuah pesantren terpadu yang cukup besar, khususnya di daerah Aceh Selatan, tepatnya di kecamatan Pasie Raja. Tujuan pembelajaran dayah ini mungkin agak berbeda dengan dayah-dayah terpadu yang ada di Aceh lainnya yang wajahnya menfokuskan ke-kitab-kitaban, artinya di sini tujuan mereka adalah untuk bisa memahami kitab-kitab kuning atau kitab gundul yang meliputi ilmu sharaf dan ilmu nahwu. Akan tetapi di pesantren DA ini, memiliki tujuan agar semua santri yang sudah lulus dari tempat tersebut bisa berbahasa dua, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. Sedangkan untuk pelajaran kitab kuning berada pada posisi kedua. Kedua subject ini menjadi posisi tertinggi dan sebagai syarat kelulusan di dayah tersebut dan hal ini tidak mempengaruhi kelulusan di madrasah, karena kelulusan di madrasah tergantung pada pusat, kita wajib bisa menjawab soal-soal ujian nasional yang telah dibuat oleh pusat.
Setiap tahun Pemda Aceh Selatan menyalurkan dana sebanyak lebih kurang tiga milyar, dana ini digunakan untuk pembangunan gedung sekolah, laboratorium, pagar (pembangunan ini dilakukan secara bertahap), dan untuk biaya akomodasi dapur (makan gratis).

Pimpinan Dayah
Sebenarnya, untuk setiap dayah pasti dipimpin oleh seorang kiyai, Abun, Abu, Abuya atau tengku yang mahir dalam membahas kitab kuning, baik itu ilmu sharaf-nya maupun ilmu nahwu-nya. Akan tapi pada tahun-tahun pertama, the leader of Islamic boarding school dikoordinatori oleh Bapak Muhammad Ridwan S.pd yang sama sekali tidak tau tentang apa itu kitab kuning, karena beliau adalah lulusan FKIP- Olah Raga Unsyiah, akan tetapi beliau mempunyai dedikasi yang tinggi dalam menunjang kemajuan pesantren. Hal ini terbukti dengan kedisiplinan beliau dalam memimpin pondok tersebut. Setelah empat tahun pondok itu berjalan, terjadi pergantian pimpinan untuk dayah, yaitu Abu Syukran yang di wakili oleh ustadz Zulsyahman menantu dari Abu Daud, yang memiliki kemampuan dalam kitab kuning. beliau mengontrol jalannya kemajuan dayah, dengan membuat silabus-silabus dayah yang mengambil rujukan dari dayah salafiyah yang ada di sana.
Sedikit terjadi ketimpangan bahwa masing-masing pimpinan, baik pimpinan madrasah maupun pimpinan dayah saling kontra-sepsi, hal ini dikarenakan keduanya saling mempertahankan job mereka masing-masing, pimpinan dayah menekankan agar santri bisa menguasai panuh tentang pelajaran dayah dan begitu juga sebaliknya, sehingga tidak sedikit permasalahan dalam sistem pembelajaran yang timbul di DA. Dan yang manjadi objek sasarannya adalah santri-santri yang ada di sana.
Untuk tingkat madrasah tsanawiah yang berstatus guru tetap hanya tiga orang, yang lainnya adalah guru honor, untuk tingkat madrasah ‘aliyah yang berstatus guru tetap berjumlah hanya satu orang dan selebihnya adalah guru honor. Walaupun demikian, dengan kegigihan dan semangat yang tinggi bisa menjadikan santri-santrinya berjiwa islami dan berdisiplin tinggi.

Sistem pelajaran dayah di Darul Aitami
Yang menjadi main topic di makalah ini adalah bagaimana sistim atau cara pembelajaran “kitab” serta penekanan terhadap bahasa di dayah terpadu darul aitami. Setiap pesantren yang sifatnya terpadu, memiliki dua cabang yaitu mata pelajaran umum dan mata pelajaran dayah. Dalam bahasan ini, saya ingin menjelaskan bagaimana pendekatan yang digunakan oleh ustadz-ustadz dalam mengajar pelajaran dayah khususnya dalam memahami kitab kepada santri-santri yang ada di DA.

* Pembelajaran Kitab
Metode-metode yang digunakan oleh tenaga pengajar di dayah tersebut untuk memahami isi kitab, membaca, mengartikan serta menjelaskan isi kitab adalah dengan metode normatif. Artinya, setiap santri wajib menyimak apa-apa yang dijelaskan oleh seorang ustadz, kemudian materi itu harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Madzhab yang dipakai oleh pesantren ini adalah ber-mazhab-kan Syafi’i. Adapun aspek pendidikan pesantren ini adalah menciptakan jiwa kepasantrenan yang mampu membentuk self (diri/jiwa) manusia seutuhnya.[2] Ini terbukti dengan adanya penekanan kepada setiap santri agar benar-benar melaksanakan kewajiban-kewajiban yang menjadi amar Allah dan meninggalkan apa yang menjadi nahi Allah, dengan merujuk kepada kitab-kitab yang ada. Sedikit terjadi kewalahan, bahwa untuk memahami isi kitab kuning sebenarnya harus ada dasar tentang pemahaman kitab, baik nahwu ataupun sharaf, akan tetapi banyak dikalangan santrinya yang masih asing tentang nahwu dan sharaf, ini ter-khusus pada santri tingkat madrasah ‘aliyah, yang santrinya benyak lulusan MTsN dan SMP luar yang kemudian masuk ke dayah ini, sehingga para ustadz susah untuk menjelaskan isi kitab. Posisi ustadz di sini adalah sebagai pemateri dan juga sebagai sentral figur yang kemudian diwariskan kepada santrinya sebagaimana yang telah disebutkan dalam buku yang dikarang oleh Kamaruzzaman BA. Yang sub judulnya: “pesantren sebagai pusat peradaban muslin: pengalam islam untuk asia tenggara”, (hal-6).
Di pesantren ini, kitab yang dipakai untuk bisa membaca, mengartikan dan men-syurah-kan isi kitab adalah: pelajaran sharaf biasanya digunakan “kitab sharaf” sedangkan untuk pelajaran nahwu digunakan kitab “Kawakib Ad-Duriyah” dan “Mukhtasar Jidan”. Sedangkan untuk bidang fiqih adalah “Al-Bajuri” dan untuk tasawwuf adalah “Ta’lim Muta’alim”.
Dilihat dari cara bagaimana santri memahami kitab biasanya seorang santri harus mampu menghafal isi kitab yang sudah diajarkan, setelah itu di-setor kepada ustadz yang bersangkutan di “Jambo meurana” [3] atau di dalam ruang kelas. Dengan metode ini diharapkan kepada santri nantinya bisa menguasai kitab kuning, paling tidak mengetahui kaidah cara membaca kitab.
 Adapun dalam bidang hukum, seorang ustadz mengajarkan menurut mazhab Syafi’i dan seorang santri harus mengerjakan seperti apa yang diajarkan oleh guru. Ini berarti pesantren tersebut menganut aliran syafi’iyah  yang juga sebagai pengaruh dari ulama-ulama besar di Aceh yang menganut aliran syafi’iyah.
Di awal bahasan tadinya telah disebutkan bahwa pelajaran kitab adalah sebagai syarat kelulusan pesantren, disetiap penghujung semester, biasanya diadakan “imtihan” yang biasa disebut oleh santri-santri DA adalah sebagai “imtihanu fikulli marhalah”. Di sini, setiap santri wajib mampu membaca kitab dan untuk membuktikannya ada sebuah tes yang menjadi program per-semester-an. Dalam tes ini, seorang santri diuji kemapanannya dihadapkan di atas mimbar yang para penonton-nya adalah kalangan ustadz-ustadzah serta para santriwan dan santriwati yang ada di kompleks tersebut. Tes ini bertujuan agar para santri mempu meningkatkan kualitas-nya secara individu dan mampu meningkatkan kuantitas santri menjadi santri yang bisa bersaing dan bersanding dengan santri-santri di dayah-dayah lainnya.

* pelajaran dua bahasa
Adapun yang menjadi visi-misi utama dari dayah ini adalah menciptakan santri yang bisa berbahasa Arab dan Inggris. Dayah ini tidak mengenal isu bahwa bahasa inggris adalah bahasa orang-orang kafir, karena isu ini dianggap sebagai pembodohan terhadap umat.
Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, lembaga dayah ini mewajibkan kepada seluruh santri untuk berbahasa disetiap harinya. Adapun untuk hari senin sampai dengan hari rabu diwajibkan berbahasa Inggris secara penuh dan pada hari kamis sampai dengan hari sabtu wajib berbahasa Arab terkecuali malam hari. Disamping itu para santri wajib menyetor vocabe dan mufradad setiap harinya, setiap santri yang melakukan pelanggaran bahasa akan dimasukkan kedalam catatan mahkamah” kemudian di eksekusi pada setiap malam minggunya. Jadi dengan metode seperti ini, santri benar-benar merasa terbebani, bahkan pada setiap liburan, santri diberikan tugas untuk menghafal vocabe dan mufradad sebanyak masing-masing 3000 buah kata. Sehingga tidak ada alasan bagi setiap santri tidak bisa berbahasa dua. Dan tidak jarang pula lulusan-lulusan dari dayah tersebut mampu bersaing dengan siswa dari sekolah bergengsi yang ada di Aceh.
Akibat dari Visual pondok tersebut, mampu mempengaruhi kebanyakan orang tua yang ada di seputaran Aceh selatan, memasukkan anaknya ke dayah tersebut, artinya dayah darul Aitami bisa dan mampu bersaing dengan sekolah dan dayah lainnya, walaupun umurnya masih “seumur jagung”.
Di sini saya kurang setuju dengan pernyataan bahwa setiap pesantren dan lulusannya mampu berada dimana-mana. Sedikit kritik bahwa hanya pesantren yang bersifat terpadusajalah yang mampu bersaing dan bersanding.

Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Sebuah lembaga dayah bisa saja punah apabila terjadi kesalahan atau kerancuan dalam sebuah sistem yang dipakai, ini terbukti dengan ada banyaknya nama darul aitami yang ada di aceh selatan yang coraknya terpadu telah punah akibat terjadinya kesalahan-kesalahan sistem yang dipakai, baik  sistem belajar-mengajar maupun sitem estimasi dana sebuah lembaga.
Pendekatan yang digunakan oleh para pengajar di dayah terpadu darul aitami adalah dengan pendekatan normatif, para santri diwajibkan menghafal bahan-bahan yang telah diberikan, dan setiap pesantren itu pasti ada sanksi terhadap kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh santrinya. Berbeda dengan dayah lain, dayah ini lebih memfokuskan ke dalam dua bahasa dari pada memahami kitab. Terbukti bahwa lulusan-lulusan dari dayah ini lebih bisa berbahasa arab dan inggris daripada membaca, mengartikan serta menjelaskan isi kitab. Walaupun misi utama dari dayah ini adalah bahasa, akan tetapi tidak mengenyampingkan pelajaran kitab. Adapun pelajaran dayah yang menggunakan kitab kuning di dayah ini adalah pelajaran tasawwuf, tauhid, fiqih, mantiq, ushul fiqh, fiqh muqarran, sharaf dan nahwu.




DAFTAR PUSTAKA
Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Pesantren Sebagai Pusat Peradaban Muslim: Pengalaman Indonesia untuk Asia Tenggara.
            Ustadz Nyak Azharif, wawancara. (2008)



[1] Ustaz Nyak Azharif (± 35), wawancara, 2008: salah satu tenaga pengajar di pesantren terpadu darul aitami.
[2] Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Pesantren Sebagai Pusat Peradaban Muslim: Pengalaman Indonesia untuk Asia Tenggara, hal-4
[3] Jambo Meurana adalah sebuah nama tempat yang biasa digunakan oleh ustadz-ustadzah untuk istirahat serta tempat penyetoran tugas para santriwan dan santriwati yang di bebankan kepada mereka, tepatnya didalam kompleks pondok pesantren terpadu Darul Aitami

3 komentar:

  1. KALAU ADA YANG SALAH DARI TULISAN INI,,, TOLONG DIKRITIK DAN DIKASI SARAN,, TERUTAMA BAGI LULUSAN DA.. TQ

    BalasHapus
  2. sesekali mampir ke rumah kami akhi..
    https://rrdmedia.blogspot.co.id/

    BalasHapus