|
|
Nama : Imanuddin/11110045
Jurusan : SAS (syari’ah).
Unit : 01
|
ISLAMIC
BOARDING SCHOOL OF DARUL AITAMI
Pendekatan Normatif: Untuk Memahami Isi Kitab dan Dua
Bahasa
Oleh: Imanuddin
Pendahuluan
Sejarah berdirinya Darul Aitami (DA)
Pesantren
terpadu yang hanya satu-satunya saat ini
di daerah Aceh Selatan yang
berdiri pada tahun 2005 yang umurnya ±
8 tahun, memiliki sistem
pembelajaran yang sama seperti dayah-dayah terpadu lainnya yang ada di Aceh.
Pesantren ini dibiayai oleh Pemda Aceh selatan. Jadi statusnya masih swasta.
Sebanarnya, pesantren yang bernama “darul aitami” sebelumnya sudah ada yang
berdiri di wilayah Aceh Selatan, akan tetapi karena sistim yang dipakai dalam proses belajar-mengajar
tersebut mempunyai banyak kesalahan, sehingga eksistensi-nya sudah punah.[1]
Awalnya dayah ini
bermula dari isu-isu “leluri” warga dan pemerintah
setempat yang ingin membuat gagasan baru bahwa diperlukannya sebuah dayah yang
bercorak terpadu, dengan mengajarkan ilmu dunia dan ilmu akhirat. Nama Darul
Aitami bukan hanya bermakna tempat untuk
orang-orang “yatim-piatu” saja, akan tetapi juga
sebagai tempat orang-orang yang “miskin
ilmu”. Ini terbukti bahwa
tidak sedikit santri yang memiliki kedua orang tua juga belajar di pasantren
tersebut. Bahkan banyak anak yang ber-ada juga belajar di Darul Aitami. Akan tetapi yang diutamakan adalah anak yatim-piatu. Untuk
santri yang mondok disini hingga yang sudah lulus, biasanya dayah ini sudah lumrah disebut dengan singkatan “DA” (Darul Aitami).
Di dayah ini, santriwan dan santriwati tidak dipisahkan ataupun tidak dibuat satir, tabir
(seukat
pembatas) dalam proses belajar, bukan seperti
dayah-dayah salafiyah yang antara kaum hawa dan kaum adam-nya
dipisah, bahkan mereka tidak saling mengenal. Akan tetapi dayah ini sama seperti
Darul ‘Ulum, SMA dan sekolah sederajat yang bersifat umum lainnya.
Mulanya,
pesantren ini hanya memiliki satu lokal untuk santri tingkat Madrasah
Tsanawiyah saja. Pada tahun kedua, untuk tingkat
Aliyah baru terisi satu lokal, jadi pada tahun ini sudah terdapat tiga lokal, satu lokal untuk madrasah ‘aliyah dan dua lokal untuk madrasah
tsanawiyah. Years by years, dengan adanya
peningkatan dan mutu semagat belajar santri yang tinggi, bisa menjadikan sebuah
pesantren terpadu yang cukup besar, khususnya di daerah Aceh Selatan, tepatnya di kecamatan Pasie Raja.
Tujuan pembelajaran dayah ini mungkin agak berbeda dengan dayah-dayah terpadu
yang ada di Aceh lainnya yang wajahnya menfokuskan ke-kitab-kitaban,
artinya di sini
tujuan mereka adalah untuk bisa
memahami kitab-kitab kuning atau kitab gundul yang meliputi ilmu sharaf dan ilmu
nahwu. Akan tetapi di pesantren DA ini, memiliki tujuan agar semua santri yang
sudah lulus dari tempat tersebut bisa “berbahasa
dua”, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. Sedangkan untuk pelajaran kitab kuning berada pada
posisi kedua. Kedua subject ini menjadi posisi tertinggi dan sebagai
syarat kelulusan di dayah tersebut dan hal ini tidak mempengaruhi kelulusan di
madrasah, karena kelulusan di madrasah tergantung pada pusat, kita wajib bisa
menjawab soal-soal ujian nasional yang telah dibuat oleh pusat.
Setiap
tahun Pemda Aceh Selatan menyalurkan dana sebanyak lebih kurang tiga milyar,
dana ini digunakan untuk pembangunan gedung sekolah, laboratorium, pagar
(pembangunan ini dilakukan secara bertahap), dan untuk biaya akomodasi dapur
(makan gratis).
Pimpinan Dayah
Sebenarnya,
untuk setiap dayah pasti dipimpin oleh seorang kiyai, Abun, Abu, Abuya atau
tengku yang mahir dalam membahas kitab kuning, baik itu ilmu sharaf-nya
maupun ilmu nahwu-nya.
Akan tapi pada tahun-tahun pertama, the leader of Islamic boarding school
dikoordinatori oleh Bapak Muhammad Ridwan S.pd yang sama sekali tidak tau
tentang apa itu kitab kuning, karena beliau adalah lulusan FKIP- Olah Raga Unsyiah, akan
tetapi beliau mempunyai dedikasi yang tinggi dalam menunjang kemajuan pesantren.
Hal ini terbukti dengan kedisiplinan beliau dalam memimpin pondok tersebut.
Setelah empat tahun pondok itu berjalan, terjadi pergantian pimpinan untuk
dayah, yaitu Abu Syukran yang di wakili oleh ustadz Zulsyahman menantu dari Abu
Daud, yang memiliki kemampuan dalam kitab kuning. beliau mengontrol jalannya
kemajuan dayah, dengan membuat silabus-silabus dayah yang mengambil rujukan
dari dayah salafiyah yang ada di sana.
Sedikit terjadi
ketimpangan bahwa masing-masing pimpinan, baik pimpinan madrasah maupun
pimpinan dayah saling kontra-sepsi, hal ini
dikarenakan keduanya saling mempertahankan job
mereka masing-masing, pimpinan dayah
menekankan agar santri bisa menguasai panuh
tentang pelajaran dayah dan begitu juga sebaliknya,
sehingga tidak sedikit permasalahan dalam
sistem
pembelajaran yang
timbul di DA. Dan yang manjadi objek
sasarannya adalah santri-santri yang ada di sana.
Untuk
tingkat madrasah tsanawiah yang berstatus guru tetap hanya tiga orang, yang
lainnya adalah guru honor, untuk tingkat madrasah ‘aliyah yang berstatus guru
tetap berjumlah hanya satu orang dan selebihnya adalah guru honor. Walaupun
demikian, dengan kegigihan dan semangat yang tinggi bisa menjadikan santri-santrinya
berjiwa islami dan berdisiplin tinggi.
Sistem pelajaran dayah di Darul Aitami
Yang
menjadi main topic di makalah ini
adalah bagaimana sistim atau cara pembelajaran “kitab” serta penekanan terhadap bahasa di dayah terpadu darul
aitami. Setiap pesantren yang sifatnya terpadu, memiliki dua cabang yaitu mata
pelajaran umum dan mata pelajaran dayah. Dalam bahasan ini, saya ingin
menjelaskan bagaimana pendekatan yang digunakan oleh ustadz-ustadz dalam
mengajar pelajaran dayah khususnya dalam memahami kitab kepada santri-santri
yang ada di DA.
* Pembelajaran
Kitab
Metode-metode
yang digunakan oleh tenaga pengajar di dayah tersebut untuk memahami isi kitab,
membaca, mengartikan serta menjelaskan isi kitab adalah dengan metode normatif. Artinya, setiap santri wajib menyimak apa-apa yang
dijelaskan oleh seorang ustadz, kemudian materi itu harus diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Madzhab yang dipakai oleh pesantren ini adalah
ber-mazhab-kan Syafi’i. Adapun aspek pendidikan pesantren ini adalah
menciptakan jiwa kepasantrenan yang mampu membentuk self (diri/jiwa) manusia seutuhnya.[2] Ini terbukti dengan adanya penekanan kepada setiap
santri agar benar-benar melaksanakan kewajiban-kewajiban yang menjadi amar Allah dan meninggalkan apa yang menjadi nahi Allah, dengan merujuk kepada kitab-kitab yang ada.
Sedikit terjadi kewalahan, bahwa untuk memahami isi kitab kuning sebenarnya
harus ada dasar tentang pemahaman kitab, baik nahwu ataupun sharaf, akan tetapi
banyak dikalangan santrinya yang masih asing tentang nahwu dan sharaf, ini
ter-khusus pada santri tingkat madrasah ‘aliyah, yang santrinya benyak lulusan
MTsN dan SMP luar yang kemudian masuk ke dayah ini, sehingga para ustadz susah
untuk menjelaskan isi kitab. Posisi ustadz di sini adalah sebagai pemateri dan
juga sebagai sentral figur yang kemudian diwariskan kepada santrinya
sebagaimana yang telah disebutkan dalam buku yang dikarang oleh Kamaruzzaman
BA. Yang sub judulnya: “pesantren sebagai pusat peradaban muslin: pengalam islam
untuk asia tenggara”, (hal-6).
Di
pesantren ini, kitab yang dipakai untuk bisa membaca, mengartikan dan men-syurah-kan isi kitab adalah: pelajaran sharaf biasanya
digunakan “kitab sharaf” sedangkan untuk
pelajaran nahwu digunakan kitab “Kawakib Ad-Duriyah” dan “Mukhtasar Jidan”.
Sedangkan untuk bidang fiqih adalah “Al-Bajuri” dan untuk tasawwuf adalah “Ta’lim Muta’alim”.
Dilihat
dari cara bagaimana santri memahami kitab biasanya seorang santri harus mampu
menghafal isi kitab yang sudah diajarkan, setelah itu di-setor kepada
ustadz yang bersangkutan di “Jambo meurana” [3] atau di dalam ruang kelas. Dengan metode ini diharapkan
kepada santri nantinya bisa menguasai kitab kuning, paling tidak mengetahui
kaidah cara membaca kitab.
Adapun dalam bidang hukum, seorang ustadz
mengajarkan menurut mazhab Syafi’i dan seorang santri harus mengerjakan seperti
apa yang diajarkan oleh guru. Ini berarti pesantren tersebut menganut aliran syafi’iyah yang
juga sebagai pengaruh dari ulama-ulama besar di Aceh yang menganut aliran
syafi’iyah.
Di
awal bahasan tadinya telah disebutkan bahwa pelajaran kitab adalah sebagai
syarat kelulusan pesantren, disetiap penghujung semester, biasanya diadakan “imtihan” yang biasa disebut oleh santri-santri DA adalah sebagai “imtihanu fikulli
marhalah”. Di sini, setiap santri wajib
mampu membaca kitab dan untuk membuktikannya ada sebuah tes yang menjadi
program per-semester-an.
Dalam tes ini, seorang santri diuji kemapanannya dihadapkan di atas mimbar yang
para penonton-nya adalah kalangan ustadz-ustadzah serta para santriwan dan
santriwati yang ada di kompleks tersebut. Tes ini bertujuan agar para santri
mempu meningkatkan kualitas-nya secara individu dan mampu meningkatkan kuantitas santri menjadi santri yang bisa bersaing dan
bersanding dengan santri-santri di dayah-dayah lainnya.
* pelajaran dua
bahasa
Adapun
yang menjadi visi-misi utama dari dayah ini adalah menciptakan santri yang bisa
berbahasa Arab dan Inggris. Dayah ini tidak mengenal isu bahwa bahasa inggris
adalah bahasa orang-orang kafir, karena isu ini dianggap sebagai pembodohan
terhadap umat.
Untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa, lembaga dayah ini mewajibkan kepada seluruh
santri untuk berbahasa disetiap harinya. Adapun untuk hari senin sampai dengan
hari rabu diwajibkan berbahasa Inggris secara penuh dan pada hari kamis sampai
dengan hari sabtu wajib berbahasa Arab terkecuali malam hari. Disamping itu
para santri wajib menyetor vocabe dan mufradad setiap
harinya, setiap santri yang melakukan pelanggaran bahasa akan dimasukkan
kedalam “catatan
mahkamah” kemudian di eksekusi pada setiap malam
minggunya. Jadi dengan metode seperti ini, santri benar-benar merasa terbebani,
bahkan pada setiap liburan, santri diberikan tugas untuk menghafal vocabe dan
mufradad sebanyak masing-masing 3000 buah kata. Sehingga tidak ada alasan bagi
setiap santri tidak bisa berbahasa dua. Dan tidak jarang pula lulusan-lulusan
dari dayah tersebut mampu bersaing dengan siswa dari sekolah bergengsi yang ada
di Aceh.
Akibat dari
Visual pondok tersebut, mampu mempengaruhi kebanyakan orang tua yang ada di
seputaran Aceh selatan, memasukkan anaknya ke dayah tersebut, artinya dayah
darul Aitami bisa dan mampu bersaing dengan sekolah dan dayah lainnya, walaupun
umurnya masih “seumur
jagung”.
Di sini saya
kurang setuju dengan pernyataan bahwa setiap pesantren dan lulusannya mampu
berada dimana-mana. Sedikit kritik bahwa
hanya pesantren yang bersifat “terpadu” sajalah
yang mampu bersaing dan bersanding.
Kesimpulan
Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Sebuah lembaga dayah bisa saja punah
apabila terjadi kesalahan atau kerancuan dalam sebuah sistem yang dipakai, ini
terbukti dengan ada banyaknya nama darul aitami yang ada di aceh selatan yang
coraknya terpadu telah punah akibat terjadinya kesalahan-kesalahan sistem yang
dipakai, baik sistem belajar-mengajar
maupun sitem estimasi dana sebuah lembaga.
Pendekatan
yang digunakan oleh para pengajar di dayah terpadu darul aitami adalah dengan
pendekatan normatif, para santri diwajibkan menghafal bahan-bahan yang telah
diberikan, dan setiap pesantren itu pasti ada sanksi terhadap
kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh santrinya. Berbeda dengan dayah lain,
dayah ini lebih memfokuskan ke dalam dua bahasa dari pada memahami kitab.
Terbukti bahwa lulusan-lulusan dari dayah ini lebih bisa berbahasa arab dan inggris
daripada membaca, mengartikan serta menjelaskan isi kitab. Walaupun misi utama
dari dayah ini adalah bahasa, akan tetapi tidak mengenyampingkan pelajaran
kitab. Adapun pelajaran dayah yang menggunakan kitab kuning di dayah ini adalah
pelajaran tasawwuf, tauhid, fiqih, mantiq, ushul fiqh, fiqh muqarran, sharaf
dan nahwu.
DAFTAR PUSTAKA
Kamaruzzaman
Bustamam-Ahmad, Pesantren Sebagai Pusat Peradaban Muslim: Pengalaman
Indonesia untuk Asia Tenggara.
Ustadz
Nyak Azharif, wawancara. (2008)
[1]
Ustaz Nyak Azharif (± 35), wawancara, 2008: salah
satu tenaga pengajar di pesantren terpadu darul aitami.
[2] Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Pesantren Sebagai Pusat Peradaban Muslim:
Pengalaman Indonesia untuk Asia Tenggara, hal-4
[3] Jambo Meurana adalah sebuah nama
tempat yang biasa digunakan oleh ustadz-ustadzah untuk istirahat serta tempat
penyetoran tugas para santriwan dan santriwati yang di bebankan kepada mereka,
tepatnya didalam kompleks pondok pesantren terpadu Darul Aitami
KALAU ADA YANG SALAH DARI TULISAN INI,,, TOLONG DIKRITIK DAN DIKASI SARAN,, TERUTAMA BAGI LULUSAN DA.. TQ
BalasHapussesekali mampir ke rumah kami akhi..
BalasHapushttps://rrdmedia.blogspot.co.id/
Mantappp
BalasHapus